Flamboyannews.com, Bengkulu – Dr.Febrianti Hermandita Tuiria, Sp.S Dokter Spesalis Syaraf, Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu menjelaskan, Pasien akan menjalani beberapa pemeriksaan sebagai bagian dari proses konsultasi penyakit saraf. Jenis pemeriksaan yang akan dilakukan tergantung pada kondisi dan gejala yang dialami pasien.
Pemeriksaan riwayat kesehatan Sebagai langkah awal pemeriksaan, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien, seperti, Gejala atau keluhan dari gangguan kesehatan yang sedang dialami, Riwayat kesehatan pasien, termasuk alergi dan penyakit yang sedang diderita, Riwayat kesehatan keluarga, misalnya penyakit keturunan yang mungkin dimiliki keluarga pasien, Riwayat operasi atau terapi pengobatan yang pernah dijalani pasien, Jenis obat-obatan yang sedang dikonsumsi, Gaya hidup, termasuk kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan penggunaan narkoba Pemeriksaan fisik
Untuk mengawali pemeriksaan fisik, dokter akan mengukur tinggi badan dan berat badan pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, Pemeriksaan tanda vital, seperti pengukuran tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh, dan laju pernapasan, Pemeriksaan bagian tubuh tertentu, seperti kepala dan leher, jantung, paru-paru, perut, serta kulit dan Pemeriksaan saraf.
Pemeriksaan saraf terdiri dari beberapa jenis seperti yang dijelaskan berikut ini, Yaitu, Pemeriksaan fungsi saraf pemeriksaan fungsi saraf umumnya meliputi gaya berjalan, cara bicara, dan status mental pasien. Berikut adalah penjelasannya dr. Febrianti Analisis gaya berjalan (gait analysis), untuk melihat apakah pola dan gaya berjalan pasien terkait dengan cedera, kelainan genetik, penyakit, maupun gangguan di tungkai atau telapak kaki
Analisis cara bicara (speech analysis), untuk melihat kemampuan pasien dalam berkomunikasi dengan orang lain, Evaluasi status mental (mental status evaluation), untuk mengetahui kondisi psikis pasien, terutama memori, orientasi, dan kecerdasan
Pemeriksaan saraf kranial, Pemeriksaan saraf kranial meliputi saraf penciuman (olfaktori), saraf penglihatan (optik), saraf gerakan mata (okulomotor), saraf wajah, serta saraf pendengaran dan keseimbangan (vestibulocochlear). Pemeriksaan sistem saraf sensorik Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui respons saraf terhadap sentuhan, rasa sakit, suhu panas dan dingin, dan getaran, serta mengidentifikasi bentuk dan ukuran suatu objek, Pemeriksaan sistem saraf motorik Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan gerak otot, bentuk dan ukuran otot, kekuatan otot, serta massa otot.
lanjut, Pemeriksaan refleks, otak kecil, dan meningeal pemeriksaan refleks biasanya dilakukan dengan mengetuk beberapa bagian tubuh, seperti siku tangan, lutut, atau pergelangan kaki. Sedangkan pemeriksaan selaput otak dilakukan dengan tes kekakuan leher (tes Brudzinski) dan pemeriksaan Kernig, yaitu memeriksa kelenturan paha di sendi panggul dalam membentuk sudut 90o.
Sementara itu, pemeriksaan otak kecil dilakukan dengan melihat apakah pasien berbicara cadel atau lambat (disartia), tidak mampu memulai atau menghentikan gerakan motorik halus (dismetria), atau memiliki gaya berjalan yang aneh, seperti pada penderita ataksia dan Pemeriksaan sistem saraf otonom pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui tanda disfungsi saraf otonom, seperti berkeringat, pucat, perubahan di kulit dan kuku, serta perubahan tekanan darah.
Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ini meliputi tes darah, tes urine, atau tes cairan lain, untuk diteliti di laboratorium. Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium dapat meliputi:
- Tes darah Tes darah dilakukan untuk mendeteksi infeksi di otak dan sumsum tulang, perdarahan, kerusakan pembuluh darah, racun yang memengaruhi sistem saraf, dan mengukur kadar obat pada pasien epilepsi.
- Tes urine (urinalisis) Tes urine bertujuan untuk mendeteksi kandungan zat abnormal di dalam urine yang menyebabkan gangguan saraf.
- Biopsi
- Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan di otot, saraf, atau otak, untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan penunjang yang dilakukan dengan menggunakan gelombang sinar, suara berfrekuensi tinggi, atau medan magnet. Beberapa jenis pemeriksaan radiologi adalah: - Foto Rontgen Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh pasien, misalnya tulang tengkorak.
- CT scan CT scan adalah pemeriksaan yang menggunakan komputer dan mesin sinar-X. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mendeteksi lokasi kerusakan otak pada pasien cedera kepala, gumpalan darah atau perdarahan pada pasien stroke, dan tumor otak.
- MRI MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio. MRI dapat mendeteksi tumor di otak dan saraf tulang belakang, multiple sclerosis, stroke, serta stenosis spinal.
- PET (positron emission tomography) scan PET scan bertujuan untuk mendeteksi tumor dan kerusakan jaringan, mengukur metabolisme sel dan jaringan, gangguan pembuluh darah, serta mengevaluasi pasien gangguan saraf, seperti penyakit Alzheimer. PET scan dilakukan dengan menggunakan zat radioaktif dosis rendah.
- Mielografi Mielografi menggunakan zat pewarna kontras yang disuntikkan ke dalam kanal tulang belakang. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi cedera, luka, dan tumor di saraf tulang belakang.
- Neurosonografi Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan detail gambar dari otak dan saraf tulang belakang. Hasil tes neurosonografi digunakan untuk memeriksa aliran darah di otak, serta mendiagnosis stroke, tumor otak, dan hidrosefalus. Tes konduksi saraf
- Tes ini bertujuan untuk memeriksa kecepatan dan fungsi sinyal listrik yang bergerak melalui saraf tubuh. Beberapa jenis tes konduksi saraf antara lain:
- Elektroensefalografi (EEG) Pemeriksaan ini menggunakan elektroda yang dipasang di kulit kepala untuk mendeteksi aktivitas listrik otak. EEG berfungsi untuk mendiagnosis kejang, tumor otak, kerusakan otak akibat cedera kepala, serta peradangan otak dan saraf tulang belakang.
- Elektromiografi (EMG) EMG berfungsi untuk memeriksa fungsi saraf perifer di lengan dan tungkai pasien dengan menggunakan jarum yang dimasukkan ke dalam otot. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi lokasi dan tingkat keparahan saraf yang terjepit.
- Elektronistagmografi (ENG) Tes ini dilakukan untuk mendiagnosis gangguan keseimbangan dan gerakan mata. ENG dilakukan dengan menggunakan elektroda kecil yang ditempelkan di sekitar mata. Bisa juga dengan kacamata khusus jika tes melibatkan sinar inframerah sebagai pengganti elektroda.
- Polisomnogram Polisomnogram merupakan pengukuran aktivitas tubuh dan otak selama pasien tertidur. Tes ini dilakukan dengan menggunakan elektroda yang dipasang di kulit kepala, kelopak mata, atau dagu.
- Elektroda akan bekerja merekam gelombang otak, gerak mata, tekanan darah, denyut jantung, dan aktivitas otot. Hasil tes ini digunakan untuk mengidentifikasi gangguan tidur, serta gangguan gerak dan gangguan pernapasan selama tidur.
Cerebral angiography.
Cerebral angiography bertujuan untuk mendeteksi penyempitan atau penyumbatan arteri maupun pembuluh darah di otak, kepala, dan leher, serta mendeteksi lokasi dan ukuran aneurisma otak. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam arteri.
Pungsi lumbal (spinal tap).
Tes pungsi lumbal dilakukan dengan mengambil sampel cairan otak dan saraf tulang belakang (cairan serebrospinal). Cairan tersebut kemudian diteliti di laboratorium dan hasilnya digunakan untuk mendeteksi perdarahan dan infeksi di otak atau saraf tulang belakang, serta mengukur tekanan di dalam kepala. (ADV)
Reporter : WL
Editor : Riki Hermanto












