Cerpen “Aku Rindu Kamu”

Oleh: Widia Ariska

I’m Missing You”
Oleh: Widia Ariska

Deburan ombak bergulung dengan begitu cepat sore ini, tidak ada senja ataupun keramaian. Di sinilah Aku berada menangis sejak tadi, Aku capek menunggu. Harus berapa lama lagi Aku menunggu, ntah enam bulan ataupun beberapa tahun lagi. Aku bahkan tidak bisa melepaskan hatiku barang sejenak saja untuk tidak memikirkan Dia.

Aku terus berjalan ntah sudah berapa jauh pantai panjang yang Aku telusuri, lamunanku terbuyar saat ada sebuah tangan yang mencegat tanganku. Aku mendongak, menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Mengapa Dia masih saja mengikutiku. Netraku terus saja mengeluarkan cairan bening dipipi, untunglah sore ini hujan dengan deras sehingga Dia tidak melihat Aku menangis.

Aku paksakan tersenyum dan berkata, “kenapa kamu di sini?” yang sebenarnya pertanyaan itu seharusnya kutanyakan pada diriku sendiri. Aku diam ketika Dia menatapku dengan marah, sudah berapa kali Aku melanggar janji yang kubuat sendiri untuk tidak pernah lagi pergi ke pantai ini dengan sendiri.

“Sudah kubilang kalau kamu capek kamu boleh berhenti,” ucap Agung yang semakin membuatku ingin menangis.

“Sudah terlalu jauh kamu menangis Ka.” rupanya Aku tidak bisa menyembunyikan mataku yang telah memerah.

“Kalau bisa Aku berhenti Gung… Aku pengen ber-henti,” ucapku padanya, “tapi nggak semudah itu.”

“Berapa tahun lagi kamu akan menunggunya Ka?” Akupun tidak tau sampai kapan Aku harus menunggunya.

Seketika Aku menangis kembali dengan sesegukan, kurasakan sebuah tangan memegang bahuku dan menarikku kedalam pelukannya. Hanya Agung yang terus saja setia menemani Aku menangis seperti ini, padahal Aku sudah cukup dewasa untuk dapat menangani ini semua tapi tetap saja Aku tidak mampu. Masalah terberat itu bukan ujian nyata tapi masalah hati yang tidak pernah ada pertanyaan dan jawabannya. Cinta yang kadang kita tempatkan di ruang yang salah, sehingga terkurung dan tidak dapat melepaskannya kembali sementara ruang itu sebenarnya tidak lagi berpenghuni.

Erika Fedeisya itulah pemilik nama gadis psikolog yang tengah berjalan dengan riang memasuki mobil kesayangannya, dengan umur yang berkisar 25 tahun Ia sudah memiliki rumah sendiri dan gelar magister. Tidak ada yang dapat menghentikan mimpinya termasuk orang yang telah menyakiti hati ibunya, semua kepedihan Ia telan dengan ikhlas. Masih teringat Erika bagaimana orang lain memandang keluarganya dengan rendah, menganggapnya tak pantas mendapat pendidikan di bangku kuliah yang akhirnya membangkitkan semangat dan keinginan terbesarnya.

“Ma Adek pergi ke rumah sakit dulu ya,” teriak Erika sembari memijak pedal gas mobilnya.

“Sarapan dulu dek,” teriak Mama yang sedikit berlari dari dalam rumah.

“Nggak usah ma udah telat ini, Adek telpon nanti dadah.” Dan mobil Erika pun melaju dengan mulus melewati kompleks perumahan elit kota Bengkulu.

Beginilah hampir setiap hari Erika meninggalkan sarapan paginya untuk mengejar absen, menjadi Psikolog di salah satu rumah sakit jiwa ternama membuatnya sibuk dan juga bisnisnya yang kian pesat. Semuanya dapat mengesampingkan otak Erika untuk tidak memikirkan seseorang yang sudah lama meninggalkan kepercayaannya terhadap Erika.

Erika berjalan menelusuri koridor rumah sakit, dan tidak sengaja berpapasan dengan seorang dokter yang memakai sneli. Erika pun tersenyum saat melihat sneli yang juga dapat di pakainya.

“Kalau Saya tidak dapat memakai sneli dokter setidaknya Saya dapat memakai sneli psikolog.” Kalimat yang dulu sering Ia ucapkan akhirnya dapat terkabul. Kalau diingat sekarang lucu sekali rasanya.

Sesampainya di ruangan Erika melihat di mejanya ada sebuah bucket bunga lili yang masih terlihat segar. Sebuah nama pun tertera.

Untuk psikolog cantik yang kurindukan,”Bye : Riski

Saya tidak butuh bunga dari kamu, percuma juga akan layu,” ucap Erika sambil membuang sembarang buketnya.

Untuk apa jika tidak ada keinginan untuk menemui, anggaplah saja Erika tidak ada di pertiwi. Sesekali Erika juga ingin egois, memetingkan perasaannya ketimbang Dia. Hanya tugas yang Dia pentingkan sudah berapa tahun tidak bisa menemui kekasih sendiri. Setiap hari Erika menunggu notifikasi yang bahkan hanya lima menit.

“Lagi mikirin apa hayo,” ucap Agung mengagetkan lamunan Erika sambil meletakkan kantong plastik di meja.

“Kok ke sini? Kamu nggak kerja?” tanya Erika yang bingung melihat sahabatnya yang bahkan hanya memakai pakaian biasa.

“Kerja kok, tapi mampir ke sini dulu. Mama bilang kamu belum sarapan,” balas Agung kemudian menyadarkan tubuhnya di sofa panjang.

“Hish mama nih, enak ya sekarang bebas kalau udah jadi bos,” kekeh Erika lalu berdiri mengambil minum untuk Agung dan sendok makan untuk dirinya.

Iya Agung sekarang telah menjadi salah satu CEO perusahaan properti yang sewaktu Erika masih kuliah dia hanya menjadi bawahan. Agung tidak ingin berkuliah dan memutuskan untuk bekerja membantu kebutuhan keluarganya, menjadi anak sulung dan memiliki adik yang banyak membuatnya harus lebih kuat dari remaja yang seumuran dengannya, dan alhamdulilah perjuangannya membuahkan hasil.

“Udah ya Aku mau ke kantor,” pamit Agung pada Erika, sebelum keluar dia pun mengelus kepala Erika.

“Jangan terlalu capek, liat kamu tuh udah kurus hahah.”

“Ishh Agung jahat.”

Jam makan siang pun tiba, Erika dengan terpaksa melangkahkan kakinya menuju ke kantin rumah sakit. Erika mengambil duduk di pojokan dengan sendiri, di depannya ada sepasang kekasih yang satu profesi sedang makan kemudian sebelahnya lagi ada seorang dokter yang sepertinya tengah menunggu kekasihnya pula. Terlihat seorang baret hijau lumut berjalan terlihat begitu gagah dan tegas menuju bangku di sebelah Erika.

Ingatan beberapa tahun lalu pun melayang di bayangan Erika, saat sepulang dari kuliah ada seorang prajurit yang menemuinya tepat di depan gerbang depan kampus. Untuk pertama kalinya mereka bertemu, dan tidak disangka respon Riski pada Erika begitu hangat. Mereka yang awalnya hanya mengenal lewat online akhirnya dapat berjumpa.

Dua minggu Riski di Bengkulu dan setiap hari dihabiskan bersama Erika, berbeda dari pandangan orang lain tentang abdi negara. Erika melihat sisi berbeda dari Riski, laki-laki yang terlihat apa adanya walaupun memiliki semuanya.

“Abang percaya sama kamu dek, kalau kamu bisa menjadi yang terbaik. Kamu selalu jaga kesehatan ya, ingat jangan telat makan dan semangat kuliahnya. Kalau kamu kangen Abang cukup kamu doakan Abang aja.”

“Kamu nggak boleh sedih ya.” Kalimat itu diucapkannya tepat di pantai yang sekarang Erika berada. Hari terakhir mereka bertemu beberapa tahun silam hitung saja sudah berapa lama, sejak itu Erika tidak pernah lagi bertemu dengan Riski.

Riski milik pertiwi yang sampai kapanpun akan milik pertiwi, bukan milik Erika ataupun siapapun. Erika sangat merindukan Riski, semua perlakuannya terhadap Erika begitu manis, wajah tampannya yang terlihat sederhana dibalut dengan seragam loreng yang khas serta baret yang penuh kehormatan.

Erika menemani Riski sejak masa pendidikan walaupun mereka kemarin belum pernah bertemu, namun mereka sudah saling mengucap dalam doa. Ada batasan dari pacaran yang mereka tahu di dalam agama sebenarnya tidak ada yang namanya pacaran tetapi mereka saling menjaga nama dalam doa.

Erika terduduk kembali di bibir pantai dengan menekukan lututnya sembari menangis. Lagi-lagi Ia berada di sini, berada di tempat yang paling mengecewakan hatinya.

“Arkhhhh,” teriak Erika dengan keras, “Aku capek bang, kenapa kita nggak bisa ketemu lagi? Kenapa kamu harus milik pertiwi hikss.”

Tangisan Erika begitu pecah, kalau bisa mintak sama tuhan kemarin Erika tidak pernah mau dikenalkan pada Riski. Mengapa cinta serumit ini, kenapa harus ada jarak yang memisahkan temu di setiap rindu.

“Aku kangen kamu bang,” cerca Erika sendiri.

Satu hal yang Erika lupa bahwa ada seseorang berharga yang selalu menemani setiap tangis Erika, Dia yang diam-diam juga ikut menangis dan berharap Erika melihatnya sebagai seorang laki-laki bukan sahabat. Tapi yang bernama hati, tidak dapat dipaksakan sekeras apapun itu tidak akan bisa.

Agung berjalan menghampiri Erika dan kembali merangkulnya, anggap saja Dia sedang menyebuhkan orang lain sementara Dia sudah berdarah dengan parah.

“Hikss … Hiks … Gung. Erika kangen Abang Riski,” tangis Erika menarik jaket yang membalut tubuh Agung. Hijab yang dipakai Erika pun sudah basah, padahal hari ini tidak hujan. Dalam hati Agung pun terluka seandainya Dia yang menjadi alasan Erika untuk menangis, alangkah bahagianya Dia.

Sudah berapa tahun Agung menahan seluruh perasaannya, satu hari saja Dia tidak melihat Erika ada yang kurang. Mereka telah bersahabat sejak SMA, Erika tidak pernah ingin sahabat menjadi kekasih. Karena Erika sangat takut jika mereka berpisah persahabatan merekapun akan kandas.

“Yaudah besok Agung antar ke Bandung mau,” tawar Agung pada Erika untuk menemui Riski.

“Nggak mau pengennya Abang yang kesini,” ucap Erika terus saja menangis.

Sejenak dering ponsel pun berbunyi….

“Hallo Assalamualaikum Sayang,” ucap suara di seberang yang mampu menghentikan detak jantung Erika.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu Bang,” balas Erika dengan bergetar.

“Maaf ya Abang jarang menghubungi Erika, Abang belum bisa ke Bengkulu. Sekarang Abang mau ke Libanon doain Abang ya.” suara yang dirindukan Erika begitu terdengar sedih.

“Iya nggak papa bang, bang–“

“Dan lapor keberangkatan akan segera,” suara dari seberang menghentikan kalimat Erika.

“Dek jaga kesehatan di sana ya apapun yang terjadi Abang sayang kamu. I’m miss you baby.”

Telepon pun dimatikan sepihak, Agung yang melihat perubahan drastis dari wajah Erika dari bahagia kemudian kosong. Seperti tidak ada harapan.

Lima bulan pun sudah berlalu sejak terakhir Riski menelpon Erika, tidak ada yang berubah dengan perasaan Erika hanya saja akhir-akhir ini Erika sering mimpi buruk dan terbangun di jam satu malam. Seperti malam ini Erika baru saja bermimpi Riski membawa tunangannya ke hadapan Erika, dengan memakai seragam setelah pulang dari pengajuan.

Rasanya jika ini benar-benar nyata Erika ingin sekali melompat di gedung teratas, untung saja hanya mimpi. Setelah sholat tahajud, Erika mengambil ponselnya yang tiba-tiba saja  berdering, jarang sekali pihak rumah sakit menghubungi di jam segini. Terlihat nomor yang tidak di kenal, karena penasaran akhirnya pun Erika mengangkat teleponnya siapa tau itu penting.

“Hallo Assalamualaikum.”
“Hallo benarkah ini dengan nona Erika?”
“Iya benar ada apa ya?” tanya Erika mulai was-was.
“Lapor Nona Erika bahwa Komandan Riski Herdiansyah sudah tiada.”
“Hah?”

Dunia Erika pun seolah berhenti, suara dari seberang pun tidak Erika sahut lagi. Apa mungkin Tuhan kasih kisah sad ending pada pejuang LDR seperti Erika. Mengapa harus Erika yang mengalami semuanya, semua kenangan tentang Riski pun berputar. Tentang pertama kali berkenalan, lewat video call. Bertanya kabar, nasihat dari Riski. Terlalu banyak yang harus dilupakan, setelah tidak bertemu lima tahun. Semesta berhentikan dengan mengambil ia dari bumi ini.

“Kalau ceritanya sad ending seperti ini mengapa harus semesta kenalkan Aku pada Dia,” ucap Erika berbicara sendiri.

Hanya menitip rindu pada pertiwi, tidak banyak yang Erika inginkan hanya miliknya jangan diambil secepat ini. Hanya satu kali bertemu, abdi negara yang pulang pun milik pertiwi. Rela mengorbankan dirinya demi Pertiwi. Sampai kapanpun abdi negara milik pertiwi. Sebesar apapun Erika merindukan Riski, mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

“Hiks bang kenapa kamu secepat ini pergi, lantas kenapa Aku ditinggalkan sendirian.” Lagi-lagi Erika berucap sendiri, dari tadi tangisnya tumpah. Erika juga tidak ingin ditemani oleh siapapun termasuk Agung. Hanya dia sendiri dan sendiri.

Apapun yang terjadi Riski sangat menyayangi Erika, setiap Dia menghadap pada Allah Riski selalu berdoa untuk kebahagiaan Erika dan kesuksesan Erika. Sepasang hati yang saling mendoakan yang ternyata kekuatan hati Riski lebih besar sehingga cintanya melekat di hati Erika. Tidak ada yang tau termasuk Erika, di kesempatan lain mungkin Erika akan belajar bahwa menghargai setiap waktu yang tuhan berikan itu sangat penting walaupun hanya lima menit.

Walaupun tidak berjumpa doa adalah kekuatan menyatukan hati yang dipisahkan oleh jarak, saling mempercayai dan mengerti keadaan adalah kunci untuk hubungan yang baik. Komunikasi mungkin sangat diperlukan tapi untuk abdi negara itu adalah kesempatan karena mereka memiliki tugas demi pertiwi dan hanya pertiwi.

“Selamat jalan bang,” ucap Erika untuk terakhir kalinya

Penulis : Widia Ariska

Salah satu remaja yang sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan pada studi bimbingan dan konseling islam semester 4, lahir di Bengkulu 11 Oktober 2002.

Menulis adalah salah satu kesukaannya sejak kecil, dari mulai menulis diary hingga membaca puisi sampai dapat menerbitkan 10 antalogi dan sekarang sedang menulis naskah novel doakan semoga cepat selesai.