Insentif Tenaga Medis Covid-19 RS.Umum M.Yunus Bengkulu Terindikasi di Potong

Insentif Tenaga Medis Covid-19 RS.Umum M.Yunus Bengkulu Terindikasi di Potong

FlamboyanNews.Com, Provinsi Bengkulu – Ketua umum dewan penasehat Konsorsium Nasional LSM provinsi Bengkulu mengimbau bahwa adanya indikasi manajemen rumah sakit Umum M.YUNUS Bengkulu diduga melakukan Pemotongan insentif yang diberikan kepada tenaga kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Umum M Yunus Bengkulu.

Gunawan Saleh mengatakan, Konsorsium telah mendapatkan atau menerima informasi terkait adanya pemotongan insentif nakes oleh pihak manajemen RS M.Yunus dengan besaran Rp.400.000 Rupiyah Per Tenaga Medis dan pihak Mereka di sodorkan Surat Pernyataan Bersedia di potong, menurut info yang di dapat mereka. Merasa bahwa itu sangat berat tetapi karena mereka sangat mengharapkan dan selama ini di perjuangkan luar biasa dengan Demo beberapa kali, Yaa sudah kami tanda tangani Aja,” kata Nara sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

“Insentif yang diterima oleh tenaga kesehatan di Transper di Rekening Pribadi dan Insentif  tersebut diketahui dilakukan pemotongan  diduga Rp. 400.000  oleh pihak manajemen Dan mereka sedikitpun tidak mengetahui bahwa itu adalah Instruksi dari Pusat atau memang ada aturan tersendiri sebab Pajak PPH  itu 0% untuk Insentif Tenaga Medis ” ungkap Gunawan.

Apa akan mereka bagikan kepada Tenaga tenaga medis lainnya yang tidak ada hubungan dengan Pasen Covid, selasa (03/08/2021).

Gunawan mengatakan, bahwa pada Maret hingga akhir Juni 2020 , bahwa Pemerintah melalui kajian cepat terkait penanganan Covid-19 khususnya di bidang kesehatan, Konsorsium Nasional LSM PROVINSI BENGKULU menemukan sejumlah permasalahan terkait pembayaran insentif dan santunan tenaga kesehatan berdasarkan analisis terhadap Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) No. HK.01.07/MNENKES/278/2020.

Adapun permasalah itu, yakni risiko inefisiensi keuangan negara yang disebabkan duplikasi anggaran untuk program pemberian insentif tenaga kesehatan di daerah, yakni melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Belanja Tidak terduga (BTT).

Kemudian, proses pembayaran yang berjenjang menyebabkan lamanya waktu pencairan dan meningkatkan Suatu risiko adanya INDIKASI terjadi pemotongan insentif atau santunan tenaga kesehatan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.Katanya

Atas permasalahan tersebut, kata Gunawan dalam waktu dekat akan merekomendasikan serta memberikan Masukan agar adanya perbaikan berupa pengajuan insentif tenaga kesehatan pada salah satu sumber anggaran saja (BOK atau BTT) dan juga Pembayaran Harus langsung Ke Rekening Para Tenaga Medis yang Bersangkutan tanpa ada Pemotongan sedikitpun,

Konsorsium juga menyarankan pembayaran insentif dan santunan tenaga kesehatan di kabupaten/kota/provinsi yang dibiayai dari BOK cukup dilakukan oleh tim verifikator daerah.

“Pembayaran insentif dan santunan yang dilakukan secara langsung kepada nakes atas rekomendasi tersebut, Kementerian Kesehatan telah menindaklanjuti dan menerbitkan regulasi baru dengan perbaikan pada proses verifikasi dan mekanisme penyaluran dana insentif dan santuan bagi nakes yang menangani Covid-19,” ucap Gunawan.

Untuk memastikan para nakes menerima haknya tanpa ada pemotongan, Gunawan mengatakan, Konsorsium terus akan akan meminta Pihak Inspektorat dan Dinas Kesehatan untuk mereka bersama-sama turut melakukan pengawasan dalam penyaluran dana insentif dan santunan bagi nakes.

“Gunawan menyebut, insentif dan santunan nakes merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada tenaga kesehatan yang menangani Covid-19.

Sepengtahuan saya, “Pemerintah memberikan insentif dan santunan kematian yang diatur dalam Kepmenkes 278/2020 tanggal 27 April 2020 yang merupakan hak bagi tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19,” Tutupnya

Insya ALLAH Dugaan Kasus ini Akan kita Laporkan juga Ke Pihak-pihak yang berkompeten,”Tambanya.

Reporter : Cecep
Editor : Rahmat Thamrin