Flamboyannews.com, Bengkulu – Terapi rehabilitasi mencakup setiap kelompok umur, mulai dari bayi baru lahir, anak dan remaja, orang dewasa muda, hingga lanjut usia. Sebagai gambaran, kondisi kesehatan yang paling umum ditangani dengan rehabilitasi ini antara lain sebagai berikut.
* Penyakit yang menyerang otak, seperti stroke, multiple sclerosis, atau cerebral palsy.
* Cedera dan trauma, termasuk patah tulang, luka bakar, cedera otak, dan cedera tulang belakang.
* Nyeri kronis, seperti sakit pinggang dan sakit leher bertahun-tahun.
* Kelelahan kronis dalam masa pemulihan dari penyakit infeksi, gagal jantung, atau penyakit pernapasan.
* Lansia dengan keterbatasan gerak.
* Efek samping pengobatan penyakit tertentu, seperti kanker.
* Operasi pada tulang atau sendi serta amputasi.
* Nyeri sendi yang berlangsung menahun.
Pada anak-anak, rehabilitasi medik biasanya diperlukan untuk kondisi:
*
* Kelainan genetik atau cacat lahir
* Keterbelakangan mental
* Penyakit otot dan saraf
* Gangguan perkembangan atau kelainan sensorik
* Autisme dan kondisi sejenisnya
* Terlambat bicara dan gangguan sejenisnya
*
Selain kondisi yang bersifat medis, terapi rehabilitasi juga dapat dilakukan pada orang sehat yang aktif berolahraga (misalnya atlet atau binaragawan). Terapi ini bertujuan untuk mencegah dan mengatasi cedera akibat aktivitas fisik berat.
Dr.Lucy Bangun SpKJ, Dokter Spesialis Jiwa Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu, menjelaskan bila, Rehabilitasi medik umumnya melibatkan beberapa terapi sekaligus, tergantung kondisi dan keterbatasan yang dialami pasien. Setiap terapi akan dilakukan bersama tenaga kesehatan yang sesuai.
Berikut jenis terapi yang paling umum dalam proses rehabilitasi:
1. Terapi fisik/fisioterapi
Terapi fisik atau fisioterapi ditujukan bagi pasien yang bermasalah dengan nyeri, kesulitan bergerak, serta belum bisa menjalani kegiatan dengan normal. Terapi ini biasanya dilakukan pada pasien stroke, operasi, ibu bersalin, dan pasien yang memakai alat bantu gerak.
2. Terapi okupasi
Ada penyakit dan kondisi tertentu yang membuat pasien tidak bisa melakukan kegiatan sederhana seperti makan, memakai baju, atau menyikat gigi. Terapi okupasi bertujuan untuk membantu pasien yang butuh dampingan dalam menjalani kegiatan tersebut.
3. Terapi wicara
Terapi wicara pada rehabilitasi medik dapat menangani berbagai masalah terkait mulut dan bahasa, termasuk kelancaran bicara, bernapas, dan menelan. Masalah ini kerap ditemukan pada anak dengan bibir sumbing, cerebral palsy, dan Down syndrome.
4. Terapi lainnya
Selain terapi fisik, okupasi, dan wicara, berikut jenis terapi lain yang termasuk dalam rehabilitasi medik:
* Terapi kognitif untuk mengatasi gangguan ingatan, pemusatan perhatian, serta aspek sejenisnya yang berkaitan dengan kemampuan berpikir.
* Terapi farmakorehabilitasi dengan memberikan obat-obatan guna memulihkan fungsi fisik atau psikis.
* Terapi rekreasional untuk meningkatkan kesehatan sosial dan emosional melalui seni, permainan, latihan relaksasi, dan terapi dengan hewan.
* Terapi vokasional untuk membangun kemampuan yang dibutuhkan pasien ketika bersekolah atau bekerja.
* Terapi seni atau musik untuk membantu pasien mengungkapkan emosi, meningkatkan kemampuan belajar, dan bersosialisasi.
Rehabilitasi medik adalah serangkaian proses untuk memulihkan fungsi fisik, psikologis, maupun sosial seseorang. Selama rehabilitasi, Anda akan mengikuti rangkaian terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan masalah yang dialami. (ADV)
Reporter : WL
Editor : Riki Hermano












