Flamboyannews.com, Bengkulu – Semakin panjang saja, begitulah pemandangan yang ada saat ini terlihat di SPBU BLK 24.382.05, Jalan Merapi, Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Minggu (13/08/2023). Kendaraan jenis truk mengantri BBM jenis solar.
Pantauan Flamboyannews.com, antrian kendaraan truk seperti di SPBU BLK, Kota Bengkulu. Jika kemarin, Sabtu malam (12/08) di SPBU BLK ini,truk mengantri hanya dari simpang empat Panorama hingga dikawasan SPBU itu sendiri.
Namun, dalam sehari malahan antrianya kian panjang bahkan hampir mendekati Jalan Danau Simpang Pesantren Pancasila di depan Dona Motor.
Baca Juga: Gerindra-PKB Resmi Gabung dengan Golkar-PAN, Dukung Prabowo di Pilpres 2024
Kondisi ini selain mengganggu pengguna jalan yang lain, juga berpotensi mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.
Pasalnya, di kawasan antrian truk itu saat malam kurangnya lampu penerangan. Akibatnya jalan itu kalau malam sangatlah gelap. Para pengguna jalan terpaksa harus ekstra hati-hati, jika tidak maka risikonya akan menumbur buntut truk yang memarkir mobil truknya untuk mengantri BBM.
“Kalau tidak hati-hati lewat jalan ini akan mengalami kecelakaan, sebab jalan sudah sempit, selain ada antrian truk, juga kurangnya penerangan lampu jalan dimalam hari,”kata Sukri warga Singaran Pati kepada wartawan Flamboyannews.com.
Sementara itu, Farul Rozi, salah satu sopir mobil isuzu panther juga mengeluhkan kelangkaan bahan bakar solar.
Terkadang saya tidak mendapatkan Solar dan pada akhirnya, Saya harus menunda keberangkatan, kami terpaksa menunggu datangnya pasokan BBM dari Pertamina agar dapat mengisi bahan bakar kendaraan. Terkadang kita sudah capek antri tahu-tahu BBM kehabisan stok, “jelasnya dengan nada kesal.
Farul juga berharap agar minyak BBM solar bersubsidi dari Pertamina bisa tepat sasaran sehingga tidak salah gunakan dan adanya pengawasan yang ketat di tingkat SPBU.
“Lanjut Farul, Ia dan rekan-rekan sesama sopir berharap kepada pihak Pertamina, agar cepat mengatasi persoalan yang terjadi dalam berapa minggu ini di SPBU Kota Bengkulu, “pintanya.
Editor : Gina Rivaldo












