Kekeringan Menghantui Bengkulu, TBS Kelapa Sawit Anjlok Petani Alami Kerugian Besar

kondisi sawah yang kering di Kelurahan Ibul Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selata, Minggu (08/10/2023).Flamboyan Foto/Sulistini
kondisi sawah yang kering di Kelurahan Ibul Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selata, Minggu (08/10/2023).Flamboyan Foto/Sulistini

Flamboyannews.com, Bengkulu Selatan – Kondisi kekeringan yang melanda Provinsi Bengkulu telah mempengaruhi masyarakat secara signifikan. Selain mengakibatkan sumur dan sawah mengering, produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turut mengalami penurunan drastis.

Warga pun terpaksa berbagi sumber air bersih dengan tetangga atau kerabat yang masih memiliki mata air yang mencukupi.

Baca Juga: Keajaiban Pantai Laguna, Surganya Wisata Bahari di Kabupaten Kaur

Mencuci dan mandi menjadi sulit bagi sebagian warga yang bergantung pada distribusi air dari PDAM Tirta Manna.

Sementara itu, warga yang belum menjadi pelanggan PDAM harus mencari solusi dengan mendapatkan air dari sungai terdekat.

Lahan pertanian juga terkena dampak kekeringan yang parah. Tanaman padi, jagung, cabai, dan lainnya mulai layu dan mati. Dinas Pertanian melaporkan ribuan hektar sawah di Kabupaten Bengkulu Selatan mengalami kekeringan.

Bahkan, benih padi yang baru saja ditanam tidak memberikan hasil, dan tanaman jagung menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.

Khusus untuk tanaman kelapa sawit, produksi mengalami penurunan drastis karena kurangnya hujan. Sebelumnya, setiap hektar lahan dapat menghasilkan lebih dari 1 ton TBS, namun saat ini hanya tinggal 600 kg.

Warga seperti Indra dari Kelurahan Ibul, Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selatan, merasakan penurunan produksi TBS dalam beberapa minggu terakhir. Turunnya produksi tidak terjadi secara tiba-tiba, namun berangsur-angsur.

Di sisi lain, harga TBS masih dapat meringankan beban petani, meskipun produksi buah sawit mengalami penurunan. Per tanggal 7 Oktober 2023, harga TBS di wilayah Kecamatan Manna tetap bertahan di Rp 1.750 per kg.

Namun, kekeringan juga memaksa petani untuk menunda pemupukan meskipun jadwal pemupukan sudah seharusnya dilakukan.  Hal ini dapat mempengaruhi berat buah kelapa sawit dan hasil panen secara keseluruhan.

Baca Juga: Dorong Inovasi Digital, Roadshow Startup Digital di Provinsi Bengkulu

Harapan akan hujan pun muncul, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akhir kemarau dan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada akhir Oktober, dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari – Februari 2024.

Meski demikian, fenomena El Nino masih mempengaruhi cuaca dan diantisipasi akan bertahan hingga tahun depan.

Editor : Gina Rivaldo