Refleksi Singkat Mengenai Politik Dari Saling Klaim Kemenangan

Refleksi Singkat Mengenai Politik Dari Saling Klaim Kemenangan

FlamboyanNews.com, Bengkulu – Masih segar dalam ingatan kita semua, betapa hingar bingarnya pilkada Gubernur Bengkulu terakhir yang kita laksanakan kemarin. Gesekan-gesekan sudah terasa sangat panas, sehingga masyarakat jadi was-was.

Dari saling klaim kemenangan, saling tuduh berbuat curang, sampai terakhir di Mahkamah Konstitusi, meskipun setelah itu masih berlanjut di media sosial selama berminggu-minggu.

Perseteruan ini sampai menghasilkan dua buah istilah yang sangat viral di Provinsi Bengkulu yaitu kucing air dan penjilat. Hal ini merupakan akumulasi dari fanatisme para pendukung ketiga kubu, yaitu antara kubu pak Rohidin-Rosjonsyah, Pak Helmi-Muslihan dan kubu pak Agusrin-Imron pada waktu itu.

Pertentangan antara ketiga kubu kucing air dan penjilat itu begitu serunya, tidak saja terjadi di dunia nyata saja. Tetapi sampai ke komentar-komentar mereka di media online pun masih saja mereka saling sodok, saling sindir, saling serang, saling hina, dan bahkan saling ancam.

Padahal seharusnya tidaklah perlu seperti itu, karena siapapun yang menang adalah pemimpin untuk seluruh Provinsi Bengkulu. Bukan hanya pemimpin dari kelompok yang memilihnya saja. Bersaing itu sehat dan siapapun yang menang itu adalah keniscayaan, karena tidak mungkin semuanya menang.

Seorang pemimpin yang telah memenangkan Pilkada, adalah orang yang mengepalai Provinsi Bengkulu ini dan membangun seluruh elemen bangsa ini tanpa pandang bulu.

Meskipun dalam hal memberikan jabatan tentulah dia mengutamakan para pendukungnya yang telah berjasa mengantarkannya. Tetapi menurut hemat penulis, haruslah selalu ada jatah untuk orang luar selain pendukung jika memang dia berkualitas, atau paling tidak untuk tawar-menawar politik demi keseimbangan.

Namun syukurlah, sekarang perseteruan ini sudah jauh berkurang, meskipun sisa-sisanya terkadang masih muncul juga, terutama sekali jika ada peristiwa yang punya kaitan dengan para pendukung salah satu pihak di Pilkada Gubernur Bengkulu di masa lalu.

Di dalam dunia politik, memang tidak ada permusuhan abadi ataupun teman abadi, tetapi yang abadi hanyalah kepentingan perebutan kekuasaan. Suatu saat seseorang bisa saja adalah teman, tetapi dilain waktu dia bisa saja menjadi musuh.

Begitu juga sebaliknya, saat ini dia mungkin sebagai musuh, namun di lain waktu bisa saja dia menjadi teman. Persoalan menjadi teman atau musuh itu, adalah teman kalau kepentingannya sama dan musuh kalau  kepentingannya berbeda.

Yang penting sekarang, semuanya itu harus dilakukan dengan penuh etika dan moral. Janganlah berdasarkan emosi, kebohongan, hoax, framing-framing, narasi-narasi, dan penggiringan opini melalui media massa maupun dalam pertemuan. Sehingga masyarakat menjadi bingung dan tidak tahu lagi yang mana yang benar. Karena kalau itu yang dilakukan, maka itu adalah suatu pembohongan publik.

Pelaku pembohongan public ini bersiap-siaplah menerima murka dari Yang Mahakuasa, sang empunya alam semesta ini. Karena apa yang kita tanam, maka itulah yang akan kita tuai. Jika kita menabur angin, maka pada saatnya kita akan menuai badai.

Kini semua sudah sangat adem dan jangalah di rusak lagi. Semua pihak sebaiknya mampu menahan diri, janganlah membuat gaduh. Semuanya harus instropeksi diri dan melihat ke dalam sebelum kita bicara,  kata Ebiet G Ade.

Marilah kita memberikan kesempatan kepada bapak Gubernur Provinsi Bengkulu terpilih beserta jajarannya membangun Provinsi Bengkulu ini, terutama sekali dalam waktu dekat ini mengatasi pandemi Covid-19 agar cepat berakhir. Sehingga kehidupan bisa kembali berjalan normal, bukan hanya wacana New Normal.

Editor : Riki Hermanto