flamboyannews – Masyarakat korban bencana gempa dan tsunami Palu, Sigi, dan Donggala masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Trauma menjadi alasan utama selain rumah luluh lantak oleh gempa dan tsunami.
Layanan kesehatan yang sudah merata hampir di seluruh posko dari berbagai lembaga bantuan medis tidak akan berpengaruh banyak jika tidak diimbangi oleh pola hidup masyarakat korban bencana. Selain bantuan logistik dan kesehatan perlu juga para relawan mengedukasi masyarakat korban bencana pola hidup sehat.
“Layanan kesehatan yang kita berikan akan percuma jika mereka tidak memperhatikan hal-hal kecil yang mempengaruhi kesehatan mereka. Misal mencuci tangan sebelum makan, mengganti pakaian, mandi yang rutin, pola makan yang teratur, dan hal kecil lainnya.” Ujar Dokter Heriris menjelaskan.

Team medis IMS bersama sahabat Al-Aqsha setiap kali turun ke lapangan saat memberikan layanan kesehatan selalu mengingatkan masyarakat korban yang mendapatkan layanan untuk mulai menjalankan pola hidup sehat semaksimal mungkin karena hidup di tenda-tenda pengungsian sangat rentan terjangkit penyakit-penyakit seperti diare, maag, batuk-pilek, gatal-gatal yang disebabkan karena tidak memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan di tenda pengungsian.
Selama kurang lebih 14 hari ini sebanyak 502 pasien dengan rincian pasien anak-anak sebanyak 169, pasien, pria dewasa 110 dan wanita dewasa 223 orang. Mereka semua tersebar di 9 titik posko pengungsian. Dengan keluhan beragam, diantaranya hipertensi, hermatitis, maag, ISPA, dan diare akut. Selain itu tidak sedikit tindakan perawatan luka-luka.
Rep : Fais
Editor : Riki Hermanto












