Flamboyannews.com, Bengkulu Selatan – Nujuh Likur adalah budaya dan kearifan lokal masyarakat Serawai Bengkulu Selatan dalam memaknai dan menyambut datangnya Idul Fitri.
“Lunjuk atau Lanjaran” adalah sayak atau tempurung kelapa yang disusun vertikal di satu tiang pancang dan dibakar pada malam ke 27 Ramadan. Hal tersebut merupakan bentuk suka cita dan rasa gembira masyarakat Bengkulu Selatan dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.
Baca Juga : Raih Lailatul Qodar, Tuntaskan Program Kebaikan di Pedalaman dengan Zakat & Sedekah Kamu
Makna lain dari dibakarnya lunjuk tersebut adalah manifestasi masyarakat saat menjalankan ibadah Ramadan, ibadah puasa yang diisi dengan ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan dengan penuh keikhlasan untuk kembali menjadi insan yanng fitri.
Cahaya lunjuk yang dibakar dan terang benderang, secara tersirat dimaknai sebagai cahaya iman dan taqwa masyarakat Serawai yang hampir usai menjalankan ibadah Ramadan dan menuju hari kemenangan.
Baca Juga : Gubernur Rohidin Pantau Harga dan Stok Bahan Pokok Menjelang Hari Raya di Pasar PTM
Tradisi inilah yang coba digalakkan kembali oleh Pemkab Bengkulu Selatan. Puluhan lunjuk dibakar bersama-sama oleh Bupati Gusnan Mulyadi bersama dengan unsur Forkopimda, Jajaran Pemerintah Daerah dan masyarakat Bengkulu Selatan di Lapangan Sekundang Setungguan Manna, Selasa malam (18/04/2023).
Baca Juga : Camat Sudarto Melantik BPD Desa Gunung Mesir Telatan dan Kemang Manis
Semoga tradisi ini juga akan menjadi sumber kekayaan budaya dan kearifan lokal di Kabupaten Bengkulu Selatan. Pemkab Bengkulu Selatan juga telah berkomitmen untuk menjadikan tradisi ini sebagai even berkelanjutan serta masuk dalam kalender pariwisata di Bumi Sekundang Setungguan. (DN)












