Inggris Kuasai Bengkulu karena Undangan dan Sambutan Terbuka, Saat Terusir dari Banten

Dahulunya Raffles's Residence, sekarang jadi rumah dinas Gubernur Bengkulu, Sabtu (29/07/2023) Flamboyan/RB/Suprayogi
Dahulunya Raffles's Residence, sekarang jadi rumah dinas Gubernur Bengkulu, Sabtu (29/07/2023) Flamboyan/RB/Suprayogi

Flamboyannews.com, Bengkulu – Inggris masuk dan menguasai Bengkulu karena undangan. Sebelumnya Inggris terusir dari Banten oleh Belanda yang berkomplot dengan penguasa lokal.

Titik pangkalnya tentu saja masalah monopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Dominasi East Indie Company (EIC) milik Inggris di Banten pada tahun 1682 harus berakhir setelah Belanda dengan VOC mengalahkannya.

Inggris berusaha keras untuk kembali menguasai jalur perdagangan lada.  Mereka mengubah strategi memotong jalur dengan menguasai Bencoolen (sekarang Bengkulu) pada tahun 1685.

Baca Juga : Tidak Boleh Terlewati, Bengkulu Memiliki Banyak Pilihan Objek Wisata

Inggris memahami bahwa sebagian besar lada di Banten sebenarnya ditanam di Pulau Sumatera bagian selatan. Jalur laut yang penting untuk pengiriman lada dan harus dikuasai adalah Bengkulu sehingga masuk akal jika Inggris melipatgandakan usahanya di sana.

Menurut Alan Harfield, dalam ‘’Bencoolen: A History of the Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra (1685 – 1825)’’ sebetulnya tujuan Inggris setelah terusir dari Banten adalah Aceh.

Dasar pertimbangannya karena  wilayah Aceh sangat strategis sebagai jalur perdagangan laut menuju Eropa. Namun, strategi Inggris di balik misi dagangnya itu sudah terbaca Raja Aceh, Sultan Zaqiyatududin Inayah Shah.

Rencana Inggris bercokol di Aceh gagal.

Pilihan berikutnya adalah wilayah Pariaman dan Barus. Penguasa lokal kala itu sudah siap dan berkenan menerima Inggris sebagai strategi kerjasama menghadapi Belanda yang agresif.

Dua hari menjelang keberangkatan utusan EIC (Ord dan Cawley) dari Madras ke Pariaman, keputusan berubah. EIC mengubah strategi menguasai Bengkulu sebagai jalur utama lada. Lebih-lebih ada surat undangan dari penguasa Bengkulu.

Baca Juga : Ternyata Kerajaan Selebar Bengkulu Berasal dari Kerajaan Jenggalu Seluma

Teori lain menjelaskan bahwa sebetulnya, pendaratan di Bengkulu bukan karena kesengajaan melainkan karena kesalahan navigasi. Tujuan awal dari Madras adalah Pariaman, bukan Bengkulu.

EIC masuk ke Bengkulu pada tahun 1685 dengan sambutan terbuka oleh penguasa Bengkulu masa itu, ‘’Orang Kaya Lela’’ dan ‘’Patih Setia Raja Muda.’’

Atas persetujuan penguasa Bengkulu juga pada tahun 1714, Inggris membangun Benteng Marlborough sebagai pusat perdagangan sekaligus pertahanan dari serangan Belanda. Sebelumnya, Inggris lebih dulu membangun Benteng York (Fort York) sebagai basis perdagangan dan pertahanan.

Inggris menamakan faktori dagang di Bengkulu dengan East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra (Garnizun EIC di Pantai Barat pulau Sumatra)

Undangan dan sambutan terbuka dari penguasa Bengkulu merupakan strategi untuk melindungi Bengkulu dari pendudukan Belanda. Faktanya,  tidak dikuasai Belanda tapi dikuasai Inggris selama hampir 140 Tahun. Yakni dari tahun 1685 hingga penandatanganan Traktat London pada 17 Maret 1824.

Traktat London adalah nama perjanjian dari versi Belanda sedang aslinya bertajuk The Anglo-Dutch Treaty of 1824. Isinya antara lain, Bengkulu diserahkan kepada Belanda, sebagai gantinya Singapura diserahkan kepada Inggris.

Menurut catatan dari berbagai literatur, Benkulen dengan cepat mendominasi penjualan lada ke Eropa pada abad ke-18, selain Bombay di India. Inggris berhasil mengirimkan lada secara rutin antara 453 ton hingga 907 ton per tahun ke London.

Tahun 1795, berhasil mengirim 1.277 ton, berdasarkan rekaman catatan di Museum Inggris,  antara tahun 1793-1796 dari Bengkulu dikirim 3.246 ton lada.

Namun akhirnya, pada 1824, Bengkulu sepakat diserahkan kepada Belanda sebagai dampak Traktat London. Bengkulu ditukar dengan Singapura yang menurut pertimbangan Letnan Gubernur Benkulen, Thomas Stamford Bingley Raffles, jauh lebih penting dan strategis dalam jangka panjang, terkait jalur perdagangan dari dan ke China.

Pertanyaannya kemana Lada Bengkulu itu sekarang? Apakah Bengkulu di zaman Inggris disebut pusat perdagangan Lada di Pantai Barat Sumatera itu, hanya sekadang pasar? Ataukah Lada Bengkulu memang hasil bumi asli dari Bengkulu dan sekitarnya?

Dilansir flamboyannews.com dari rakyatbengkulu, Sabtu (29/07/2023) Tak ada catatan dan data pasti. Cuma ada secuil catatan bahwa lokasi pengumpulan lada oleh Inggris di Bengkulu itu di Silebar. Saat ini, Selebar merupakan sebuah kecamatan di Kota Bengkulu dengan 6 kelurahan, yaitu Betungan, Bumi Ayu, Pagar Dewa, Pekan Sabtu, Sukarami, dan Sumur Dewa. Tidak ada bekas atau tanda yang bisa dijadikan patokan bahwa daerah Selebar pernah menjadi perkebunan lada atau sejenisnya.

Baca Juga : Sejarah Salah Satu Terowongan Terpanjang di Empat Lawang, Sumatera Selatan

Saat ini, produksi perkebunan rakyat di Bengkulu, berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu tahun 2022 yang diupdate 11 Mei 2023, terdiri  dari Kelapa Sawit 730,79 ribu ton per tahun,  Karet 90,11 ribu ton,  Kopi  56,03 ribu ton, Kelapa 7,29 ribu ton, dan Kakau 1,48 ribu ton. Tidak ada data produksi lada.

Merujuk data yang dirilis di web milik Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Bengkulu, produksi rata-rata lada Provinsi Bengkulu tinggal  106 ton.

Diduga penurunan tajam produksi Lada Bengkulu berhubungan dengan pergeseran minat tanam petani ke perkebunan Kelapa Sawit dan harga lada yang relatif terus turun.

Nama besar Lada Bengkulu tinggal kenangan. Bahkan sudah tidak dikenal dalam varietas lada dunia.  Varietas lada yang terkenal justru Lampung yang ditanai rasa sangat pedas dan aroma sangat kuat.  Varietas lainnya, Sarawak yang tumbuh di Kalimantan. Varietas lainnya, seperti Tellicherry, Malabar, Ailepey, Saigon, dan Penang.

Editor : Gina Rivaldo