Kaur  

Kekeringan Terkait El Niño, Petani Kaur Bengkulu Beralih Menanam Kangkung Darat

Sawah milik petani di Desa Gedung Sako dan Desa Padang Petron, Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, mulai kekeringan akibat kesulitan mendapatkan air, Senin (18/09/2023).Flamboyan Foto/Sulistini
Sawah milik petani di Desa Gedung Sako dan Desa Padang Petron, Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, mulai kekeringan akibat kesulitan mendapatkan air, Senin (18/09/2023).Flamboyan Foto/Sulistini

Flamboyannews.com, Kaur – Fenomena El Niño telah mengguncang wilayah Bengkulu, khususnya Kabupaten Kaur. Musim kemarau panjang yang disebabkan oleh El Niño telah mengakibatkan kekurangan air yang serius bagi petani di daerah ini.

Dua desa terdampak secara signifikan adalah Desa Gedung Sako dan Desa Padang Petron, yang terletak di Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur.

Baca Juga: Razia Rutin di Lapas Argamakmur, Bengkulu Utara: Keamanan dan Kondusifitas Terjaga

Pantauan lapangan menunjukkan bahwa sawah-sawah di desa-desa ini telah mengalami kekeringan, dan tanahnya retak-retak akibat kurangnya pasokan air selama periode kemarau yang panjang.

Feri Fernandes, seorang petani berusia 35 tahun dari Desa Padang Petron, mengungkapkan bahwa lahan sawah miliknya yang biasanya ditanami padi kini terpaksa beralih fungsi menjadi tempat menanam kangkung darat. Keputusan ini diambil karena sangat sulit untuk mendapatkan pasokan air yang cukup untuk tanaman padi.

“Dengan kondisi saat ini, menanam padi bukanlah pilihan yang layak karena sulitnya mendapatkan air. Jadi, saya memutuskan untuk beralih ke menanam kangkung darat, terutama karena permintaan pasar akan kangkung darat meningkat. Saya melihat ini sebagai salah satu peluang yang harus saya manfaatkan,” ujar Feri Fernandes pada Senin, (18/09/2023).

Salah satu keuntungan menanam kangkung darat adalah tanaman ini membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan padi.

Selain itu, menanam sayuran seperti kangkung darat dapat menghasilkan pendapatan yang lebih baik, terutama selama musim kemarau ketika harga sayuran cenderung naik karena banyak petani lain yang mengalami gagal panen.

Baca Juga: Perjuangan Melawan Jago Merah, Kebakaran Hutan di Pulau Enggano, Bengkulu Utara

Feri Fernandes melaporkan bahwa ia menjual kangkung darat seharga Rp2.000 per ikat kepada konsumen, sedangkan harga ecerannya di pasar berkisar antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per ikat.

Hal ini menunjukkan bahwa beralih ke menanam kangkung darat telah menjadi solusi yang menguntungkan bagi petani di Kabupaten Kaur yang terkena dampak kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Niño.

Editor : Gina Rivaldo