Molek, Alat Transportasi Unik Khas Lebong Tandai

 

flamboyannews – Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu,  merupakan daerah penghasil emas. Konon dari sini pulalah emas di puncak Monas Jakarta berasal. Sebagai penghasil emas, desa ini pada zaman dulu dikenal sudah maju.

Saking modern, gemerlap, dan mewahnya kawasan itu, Belanda pun menjulukinya dengan “Batavia Kecil”. Namun kisah kejayaan masa lalu itu, saat ini terkubur seiring habisnya emas dikeruk oleh penjajah. Lebong Tandai menjadi desa terpencil di pedalaman Bengkulu.

Ratusan kepala keluarga (KK) menempati wilayah itu bekerja sebagian besar penambang emas rakyat. Kebutuhan dasar rakyat di wilayah itu masih belum terpenuhi. Dari Ibukota Kecamatan Napal Putih menuju Lebong Tandai membutuhkan waktu sekitar 4 jam menggunakan lori bermesin diesel dinamakan “Molek”. Tak ada transportasi lain. Baca juga: Transportasi Molek Menuju Batavia Kecil Molek kepanjangan Motor Lori Ekspres. Molek berjalan di lintasan rel rapuh buatan Belanda saat masih mengeruk emas di lokasi itu.

“Saat ini kondisi jalur molek sungguh mengerikan terdapat beberapa jembatan rusak parah. Terdapat beberapa lintasan rel kadang rusak akibat longsor,” ujar Fajar Mukti salah seorang pengguna Molek, Minggu (23/9/2018). Meski rel lori membahayakan penumpang namun karena tak ada pilihan moda transportasi lain maka tetap saja digunakan.

“Untuk menyiasatinya penumpang harus turun saat lori melintasi rel yang berbahaya,” tambah Fajar. Sementara menurut para warga, beberapa bagian jalur rel juga ada yang terputus sejak beberapa tahun dan tak pernah diperbaiki. Warga mengaku telah beberapa kali meminta Pemda Bengkulu Utara dan Pemprov Bengkulu untuk memperhatikan jalur transportasi namun hingga kini belum dipenuhi.

Desa Lebong Tandai cocok menjadi destinasi wisata alam dan sejarah. Di desa tersebut banyak menyimpan cerita dan tempat perjuangan pejuang Indonesia saat mengusir penjajah. Kendaraan Molek juga menjadi bagian penarik wisatawan jika dikelola secara baik dan profesional.

Penulis     : Dikkie Adi Yanto

Editor       : Riki hermanto