Flamboyannews.com, Bengkulu Tengah – Sebuah aksi demonstrasi yang tak biasa mengguncang Kabupaten Bengkulu Tengah pada pagi Kamis, (07/09/2023).
Di depan Kantor Bupati, suara merdu para demonstran menyanyikan lirik lagu anak-anak yang akrab, “Satu ditambah satu, sama dengan dua. Dua ditambah dua, sama dengan empat, empat ditambah empat sama dengan delapan.” Tidak sekadar nyanyian, lagu itu menyimpan sindiran pedas terhadap penggunaan dana untuk pelatihan pembelajaran anak-anak dengan metode unik yang disebut “Gasing.”
Baca Juga: Pantauan dan Pengawasan Pilkades Serentak di Kabupaten Seluma Tahun 2023, Sukses dan Kondusif
Metode “Gasing” (Gampang Asik dan Menyenangkan) menjadi kontroversi setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) dikabarkan menggelar pelatihan dengan biaya mencapai Rp500 jutaan.
Namun, yang mengejutkan adalah ketidak terdapatannya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Itulah yang menjadi bahan perdebatan di aksi demo ini.
Koordinator aksi, Nasirwandi, menjelaskan tujuan mereka bukanlah untuk menghentikan kegiatan pelatihan seperti gasing, tetapi untuk mengungkapkan kebingungan mereka tentang sumber dana yang digunakan. Masyarakat ingin tahu dari mana anggaran sebesar itu diperoleh dan apakah itu sesuai dengan ketentuan anggaran daerah, “jelas Nasirwandi
Selain Nasirwandi, Datuk Malani dan Syaiful juga mengambil peran dalam mengungkap isu ini kepada publik. Para demonstran membawa spanduk-spanduk dengan tuntutan mereka yang tidak dijelaskan secara rinci dalam laporan ini.
Baca Juga: Polisi Ungkap, Modus Pelaku Penyalahgunaan Pengangkutan dan Niaga BBM Bersubsidi di Bengkulu
Aksi demo ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian Polres Bengkulu Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa pihak berwenang siap mengawasi jalannya aksi untuk menjaga ketertiban.
Hingga berita ini ditulis, aksi demonstrasi masih berlangsung. Kejelasan mengenai sumber dana untuk pelatihan gasing dan transparansi dalam penggunaan anggaran publik tetap menjadi perbincangan utama di masyarakat. Bagaimana perkembangan selanjutnya dari aksi ini, hanya waktu yang akan memberikan jawabannya.
Editor : Gina Rivaldo












