Korban KDRT Meninggalkan Rumah Sakit, Pilih Pengobatan Tradisional

Flamboyannews.com, Bengkulu – Seorang korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan nama samaran Ya (29) terpaksa meninggalkan RSUD UMMI Kota Bengkulu. Keputusannya ini disebabkan BPJS Kesehatannya tidak dapat diklaim. Namun, Ya bersama keluarganya memilih jalur pengobatan tradisiona, Kamis (14/09/2023).

Keadaan Ya membaik secara bertahap, dan kakak kandungnya, Lenda (39), yang telah mendampinginya, mengungkapkan bahwa mereka tidak mempermasalahkan pengobatan ini. Mereka mengikuti aturan BPJS Kesehatan dan menghindari risiko operasi yang memakan waktu lama, mengingat Ya memiliki anak yang membutuhkan perhatian.

Baca Juga: BPBD Bengkulu Selatan Sosialisasikan Pencegahan Bencana kepada Siswa dan Masyarakat Desa Tumbuh Tebing

“Alhamdulillah, saat ini kondisi korban sudah membaik, meskipun baru menjalani urutan tradisional dua kali, sudah terlihat perubahan,” ujar Lenda dengan lega.

Perubahan yang paling mencolok adalah pada kaki Ya, yang sebelumnya sulit bergerak karena masalah saraf. Sekarang, ia sudah mulai bisa berdiri meskipun hanya sebentar. Tangan dan bahunya, yang pernah bergeser secara tidak wajar, juga sedang dalam tahap pemulihan.

“Punggungnya yang dulu sakit karena tindakan suaminya saat ini juga sudah mulai pulih,” tambah Lenda.

Meskipun ada dukungan dari berbagai pihak, seperti DP3AP2KB dan Polres Seluma yang membantu dalam kasus ini, keluarga Ya membutuhkan tambahan dukungan finansial untuk melanjutkan pengobatan.

“Untuk pengobatan korban saat ini, kami menggunakan dana pribadi. Jika ada yang ingin membantu, kami sangat menerima bantuan tersebut,” harap Lenda.

Baca Juga: Rumah Sakit Gading Medika Terima Alat Medis Canggih untuk Meningkatkan Pelayanan

Kisah tragis ini bermula dari suami kedua Ya, yang telah menikahinya pada Januari 2023 lalu. Sejak pernikahan mereka belum genap satu bulan, suami ini telah sering melakukan KDRT. Kekerasan yang paling brutal terjadi pada Jumat (1/9), ketika suami ini melakukan tindakan kejam di hadapan anak mereka yang masih balita. Saat itu, suami menyeret Ya, menginjaknya, dan menendang tubuhnya hingga membuatnya sulit bergerak.

Pada Rabu (30/8), Ya juga menjadi korban kekerasan fisik oleh suaminya, yang membuat kakinya sulit berjalan.

“Pada Jumat itu, masalah muncul karena suami menanyakan uang yang saya simpan. Karena kaki saya masih sakit, saya hanya menyebutkan tempatnya. Namun, ternyata suami tidak menerima penjelasan saya dan melakukan kekerasan lagi, hingga saya hampir lumpuh,” keluh Ya.

Suami korban, yang identitasnya disamarkan sebagai SB (54), telah ditahan di rumah tahanan (rutan) Polres Seluma dan menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun.

Editor : Gina Rivaldo